<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META http-equiv=Content-Type content="text/html; charset=iso-8859-1">
<META content="MSHTML 6.00.2900.2802" name=GENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY>
<DIV><FONT face=Arial size=2><EM><STRONG><FONT color=#ff0000>Ada atau tidak
adanya supersemar atau supermie tidak penting, yang penting ialah militer
mengambil alih kekuasaan negara di Indonesia dengan menyemblih lawan-lawan
politik atau yang dianggap lawan. Perbuatan ini adalah strategi sesuai
dengan rekomendasi dan tuntutan geopolitik perang dingin. Silahkan baca
Planing Study 23 ditulis oleh George Kenan untuk State
Department planning staff 1948. Jadi by hooks or crooks kekuasaan Sukarno harus
dijatuhkan. Apakah untuk menjatuhkan Sukarno perlu surat kuasa seperti
supersemar? Hanya kaum formalitas kesiangan saja yang berbicara tentang
perlu adanya supersemar</FONT>. </STRONG></EM></FONT><STRONG><EM><FONT
face=Arial size=2></FONT></EM></STRONG></DIV>
<DIV><STRONG><EM><FONT face=Arial size=2></FONT></EM></STRONG> </DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2>----- Original Message ----- </FONT>
<DIV><FONT face=Arial size=2>From: "Yap Hong Gie" <</FONT><A
href="mailto:ouwehoer@centrin.net.id"><FONT face=Arial
size=2>ouwehoer@centrin.net.id</FONT></A><FONT face=Arial
size=2>></FONT></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2>To: "Posting X-PPI '77-'87" <</FONT><A
href="mailto:X-PPI_Se-Eropa77-87@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>X-PPI_Se-Eropa77-87@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial
size=2>>; "Posting Wahana-news" <</FONT><A
href="mailto:wahana-news@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>wahana-news@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>;
"Posting Tionghoa-net" <</FONT><A
href="mailto:tionghoa-net@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>tionghoa-net@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>;
"Posting Nasional" <</FONT><A
href="mailto:nasional-list@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>nasional-list@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>;
"Posting Marinir TNI/AL" <</FONT><A href="mailto:marinir@polarhome.com"><FONT
face=Arial size=2>marinir@polarhome.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>;
"Posting KIAD" <</FONT><A href="mailto:KIAD@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>KIAD@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>; "Posting
IndoUsaMil" <</FONT><A href="mailto:IndoUsaMil@yahoogroups.com"><FONT
face=Arial size=2>IndoUsaMil@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial
size=2>>; "Posting FSAB" <</FONT><A
href="mailto:FSAB@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>FSAB@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>; "Post
PPIIndia" <</FONT><A href="mailto:ppiindia@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>ppiindia@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial size=2>>; "Post
MediaCare" <</FONT><A href="mailto:mediacare@yahoogroups.com"><FONT
face=Arial size=2>mediacare@yahoogroups.com</FONT></A><FONT face=Arial
size=2>></FONT></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2>Sent: Saturday, March 11, 2006 6:43 AM</FONT></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2>Subject: [nasional-list] [KCM] M Jusuf, Supersemar,
dan Naiknya Soeharto</FONT></DIV></DIV>
<DIV><FONT face=Arial><BR><FONT size=2></FONT></FONT></DIV><FONT face=Arial
size=2>> </FONT><A
href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/11/utama/2500391.htm"><FONT
face=Arial
size=2>http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/11/utama/2500391.htm</FONT></A><BR><FONT
face=Arial size=2>> <BR>> Berita Utama<BR>> Sabtu, 11 Maret
2006<BR>> M Jusuf, Supersemar, dan Naiknya Soeharto<BR>> Julius
Pour<BR>> <BR>> Hari itu, 40 tahun lalu, Jakarta khususnya dan Indonesia
umumnya dilanda<BR>> prahara. Dampak pembunuhan sejumlah jenderal TNI AD pada
awal Oktober tahun<BR>> sebelumnya masih berlanjut, memicu karut-marut di
semua sendi kehidupan.<BR>> <BR>> Dalam hiruk pikuk itu muncul surat
perintah tertanggal Jakarta 11 Maret<BR>> 1966. Surat yang kemudian populer
sebagai Supersemar (Surat Perintah Sebelas<BR>> Maret) ditandatangani
Soekarno, Presiden yang waktu itu merangkap Panglima<BR>> Tertinggi sekaligus
Pemimpin Besar Revolusi.<BR>> <BR>> Surat tersebut kemudian tampil
misterius karena keberadaannya sampai<BR>> sekarang tak pernah bisa terlacak.
Sementara itu, isinya tidak hanya menjadi<BR>> penunjang kelahiran rezim Orde
Baru, tetapi juga sebuah lonceng penumpasan<BR>> terhadap kaum komunis dan
siapa saja yang diduga sebagai komunis.<BR>> <BR>> Sejumlah tokoh terkait
dalam kelahiran Supersemar. Selain Bung Karno, juga<BR>> tercatat tiga
jenderal (Basuki Rahmat, Amir Machmud, dan M Jusuf) selaku<BR>> pembawa surat
sebelum mereka menyampaikannya kepada Soeharto.<BR>> Dalam posisi sebagai
Panglima Angkatan Darat, lewat Supersemar Bung Karno <BR>> memberi Soeharto
tugas, ... mengambil segala tindakan yang dianggap perlu <BR>> untuk
terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan pemerintahan dan <BR>>
revolusi.<BR>> <BR>> Empat puluh tahun berlalu, kini tinggal Soeharto
seorang. Berturut-turut,<BR>> Basuki Rahmat, Soekarno, Amir Machmud, dan
terakhir Jusuf meninggal dunia<BR>> tanpa memberi petunjuk jelas mengenai
latar belakang Supersemar.<BR>> Mengapa surat tersebut menyebutkan Jakarta,
sementara dirancang, ditulis, <BR>> serta ditandatangani di Bogor? Salah
tulis atau kesengajaan?<BR>> <BR>> Pertanyaan ini bagaikan membuka kotak
pandora sebab langsung disusul<BR>> rentetan pertanyaan. Apakah tidak mungkin
dibikin di Jakarta dan Bogor hanya<BR>> dipinjam karena Bung Karno sedang
lari ke sana? Mungkinkah Bung Karno<BR>> terpaksa atau dipaksa menandatangani
surat yang sudah disiapkan?<BR>> <BR>> Sampai Jenderal Jusuf meninggal 7
September 2004, khalayak dikesankan<BR>> bahwa almarhum menyimpan kunci
misteri sekitar Supersemar. ... di kelak <BR>> kemudian hari, dengan seizin
Pak Harto, mudah-mudahan dapat saya himpunkan <BR>> keseluruhan ataupun
segala peristiwa dan dialog-dialog sejak sebelum 11 <BR>> Maret sampai
sekarang, dalam satu buku, begitu janji Jusuf pada 12 Maret <BR>>
1973.<BR>> <BR>> Karena itu, terbitnya biografi Jenderal M Jusuf: Panglima
Para Prajurit<BR>> karya Atmadji Sumarkidjo, yang diluncurkan Jumat (10/3)
sore, sangat<BR>> ditunggu dan bahkan memberi harapan terkuaknya misteri
termaksud.<BR>> Apalagi Atmadji mengaku, selama bertahun-tahun dia telah
menjadi bagian dari <BR>> inner circle Jusuf.<BR>> <BR>> <BR>> Dua
versi Supersemar<BR>> Kericuhan sekitar Supersemar awalnya menyangkut
persoalan, seberapa banyak<BR>> sebenarnya jumlah tindasan dilakukan?<BR>>
<BR>> Atmadji melukiskan, Jusuf punya dua versi yang secara substansial
berbeda<BR>> jauh. Pada awalnya almarhum menyatakan naskah Supersemar hanya
satu kopi,<BR>> diketik oleh Komandan Tjakrabirawa Brigjen Sabur. Namun,
kepada Jusuf Kalla<BR>> (sekarang wakil presiden), Jusuf konon pernah
menyebutkan, Sabur membikinnya<BR>> rangkap tiga. Lembar pertama
ditandatangani Bung Karno (kemudian dikirim<BR>> kepada Soeharto), tindasan
kedua diambil Sabur, tindasan terakhir disimpan<BR>> Jusuf. ... tetapi 23
tahun setelah peristiwa itu, Jusuf berusaha tidak<BR>> mengungkap lagi
sehingga konfirmasi atas versi yang pernah dia ceritakan tak<BR>> bisa
dilakukan, tulis Atmadji, yang agaknya juga tidak pernah berani meminta<BR>>
kejelasan kepada Jusuf.<BR>> <BR>> Naskah asli dan juga dua tindasan hasil
ketikan Sabur sampai hari ini<BR>> lenyap. Pada sisi lain, meski dalam
persoalan di atas sikap Jusuf tidak<BR>> konsisten, yang tetap dia pegang
teguh adalah penegasan, naskah Supersemar<BR>> terdiri dari dua
lembar.<BR>> <BR>> Satu lembar atau dua lembar bagi Soeharto, yang pada 11
Maret 1966 malam<BR>> berada di Jakarta, agaknya bukan masalah. Berdasarkan
surat perintah yang<BR>> dia terima tersebut, malam itu juga Soeharto
mengeluarkan surat keputusan,<BR>> di Jakarta, tertanggal 12 Maret 1966.
Keputusan Presiden/Pangti ABRI/ KOTI<BR>> Nomor 1/3/1966 tentang pembubaran
PKI dan ormas-ormasnya di seluruh<BR>> Indonesia. Disusul 18 Maret, keputusan
menahan 15 menteri dan mengangkat<BR>> sejumlah menteri ad interim pengisi
pos-pos kosong.<BR>> <BR>> Pembubaran PKI adalah soal prinsip, khususnya
pascaperistiwa G30S, bahkan<BR>> telah menjadi isu tarik-ulur antara Bung
Karno dan lawan politiknya.<BR>> <BR>> Keputusan pembubaran PKI telah
disebarluaskan lewat semua pemancar RRI dan<BR>> dicetak di koran. Namun,
aneh sekali, bagaimana mungkin Bung Karno justru<BR>> tidak sadar bahwa surat
perintahnya telah dipakai untuk membubarkan PKI?<BR>> Sesuatu yang justru dia
tolak secara mati-matian selama lima bulan terakhir?<BR>> <BR>> Tanggal 12
Maret pagi Bung Karno terbang kembali ke Jakarta dan membuka<BR>> rapat
pimpinan ABRI di Istana Negara, di hadiri lengkap oleh semua unsur<BR>>
pimpinan, kecuali Soeharto. Sangat berbeda dengan suasana sehari
sebelumnya<BR>> ketika dia terpaksa harus lari dari sidang kabinet
menyelamatkan diri ke<BR>> Istana Bogor. Pada 12 Maret itu Bung Karno malah
membacakan surat perintah<BR>> yang malamnya sudah dia berikan kepada
Soeharto. Apakah saat itu tidak ada<BR>> yang melapor kepada Bung Karno? Dan
apakah Bung Karno tidak sadar bahwa<BR>> Soeharto, yang semalam dia beri
perintah, pagi itu justru tidak muncul?<BR>> <BR>> Sayang sekali, Atmadji
langsung mengunci babakan sangat menarik dan paling<BR>> kritis sekitar
persoalan Supersemar tersebut dengan kalimat, Reaksi terkejut<BR>> Presiden
baru muncul setelah menerima laporan bahwa Men/Pangad telah<BR>> membubarkan
PKI dengan dasar surat perintah yang ia berikan. Presiden lalu<BR>>
mengeluarkan surat perintah susulan yang kemudian disampaikan khusus
kepada<BR>> Letjen Soeharto oleh Waperdam II Leimena pada 13 Maret 1966. Akan
tetapi,<BR>> Soeharto tidak memberikan reaksi. Sementara itu, ketiga jenderal
yang datang<BR>> ke Bogor sama sekali tidak pernah bertemu dengan Presiden
Sukarno sesudah<BR>> itu....<BR>> <BR>> <BR>> Jusuf, Soeharto,
Nasution<BR>> Kecuali mengenai Supersemar, banyak informasi sekitar sosok
berikut sepak<BR>> terjang Jusuf bisa ditemukan dalam karya Atmadji.<BR>>
<BR>> Ternyata, naiknya Nasution menjadi Ketua MPRS pada bulan Juni 1966
berkat<BR>> aksi menggalang dukungan yang dilakukan Jusuf. Dilanjutkan agenda
utama,<BR>> meningkatkan status Supersemar menjadi Ketetapan MPRS. Langkah
tersebut<BR>> berhasil dan menutup Bung Karno untuk mencabut surat
perintahnya. Sebab,<BR>> sebagai Tap MPRS, pencabutan memerlukan persetujuan
MPRS yang secara teknis<BR>> sulit dilakukan sesudah para loyalis Bung Karno
di semua lini <BR>> di-ordebaru-kan.<BR>> <BR>> Penyerahan pemerintahan
kepada Soeharto baru terlaksana pada 22 Februari<BR>> 1967. Dituntaskan lewat
sidang istimewa awal Maret tahun yang sama, MPRS<BR>> mencabut mandat Bung
Karno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.<BR>> Berakhirnya
kekuasaan Bung Karno masih belum menyurutkan kewibawaannya.<BR>> Hal ini
mendorong Soeharto pada Mei 1967 mengeluarkan keputusan presiden,<BR>>
melarang Bung Karno memakai gelar kepresidenan dan beragam sebutan lain,<BR>>
termasuk perintah pengusirannya dari Istana Merdeka dengan batas akhir<BR>>
sebelum 17 Agustus 1967.<BR>> <BR>> Selama hari-hari panjang tersebut
Soeharto-Nasution sebiduk sependirian.<BR>> Namun kemudian mulai retak dan
bahkan tumbuh menjadi pertikaian personal.<BR>> Menurut Jusuf, Ketua MPRS
beranggapan, Pejabat Presiden harus memberikan<BR>> pertanggungan jawab
kepada pimpinan MPRS. Pertikaian berlanjut sampai Sidang<BR>> Umum MPRS Maret
1968. Soeharto dilantik menjadi presiden pada 27 Maret<BR>> malam (keesokan
harinya dia harus terbang ke Jepang), sementara sidang MPRS <BR>> baru bisa
ditutup pada tanggal 30 Maret.<BR>> <BR>> Sebelum upacara pelantikan
berlangsung, sejumlah kericuhan muncul. Jusuf<BR>> harus bolak-balik menemui
Soeharto dan Nasution untuk menyerasikan tetek<BR>> bengek masalah, sejak
yang prinsip sampai soal protokoler. Akhirnya, upacara<BR>> pelantikan bisa
dilakukan. Nasution memakai baju lengan pendek, Jenderal<BR>> Soeharto
berpakaian sipil lengkap plus peci.... Maka, secara resmi, Soeharto<BR>>
menjadi presiden, menggantikan Bung Karno yang sudah dilengserkan.<BR>>
<BR>> <BR>> <BR>> <BR>> <BR>> <BR>> <BR>> <BR>>
Yahoo! Groups Links<BR>> <BR>> <*> To visit your group on the web,
go to:<BR>> </FONT><A
href="http://groups.yahoo.com/group/nasional-list/"><FONT face=Arial
size=2>http://groups.yahoo.com/group/nasional-list/</FONT></A><BR><FONT
face=Arial size=2>> <BR>> <*> To unsubscribe from this group, send
an email to:<BR>> </FONT><A
href="mailto:nasional-list-unsubscribe@yahoogroups.com"><FONT face=Arial
size=2>nasional-list-unsubscribe@yahoogroups.com</FONT></A><BR><FONT face=Arial
size=2>> <BR>> <*> Your use of Yahoo! Groups is subject
to:<BR>> </FONT><A
href="http://docs.yahoo.com/info/terms/"><FONT face=Arial
size=2>http://docs.yahoo.com/info/terms/</FONT></A><BR><FONT face=Arial
size=2>> <BR>> <BR>></FONT></BODY></HTML>