<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META http-equiv=Content-Type content="text/html; charset=iso-8859-1">
<META content="MSHTML 6.00.2900.2722" name=GENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY bgColor=#ffffff>
<DIV><FONT face=Arial size=2>
<DIV style="FONT: 10pt arial">----- Original Message -----
<DIV style="BACKGROUND: #e4e4e4; font-color: black"><B>From:</B> <A
title=xtine@csis.or.id href="mailto:xtine@csis.or.id">Christine Susanna
Tjhin</A> </DIV>
<DIV><B>To:</B> <A title=johnmacdougall@comcast.net
href="mailto:johnmacdougall@comcast.net">'John MacDougall'</A> ; <A
title=bivitri.susanti@gmail.com
href="mailto:bivitri.susanti@gmail.com">bivitri.susanti@gmail.com</A> ; <A
title=rival@pshk.org href="mailto:rival@pshk.org">Rival Ahmad</A> ; <A
title=amrih.widodo@anu.edu.au href="mailto:amrih.widodo@anu.edu.au">Amrih
Widodo</A> ; <A title=yayasan_gpsp@yahoo.com
href="mailto:yayasan_gpsp@yahoo.com">Yuda Irlang</A> ; <A
title=ninoy_ngo@yahoo.com href="mailto:ninoy_ngo@yahoo.com">Nia Sjarifudin</A> ;
<A title=batara_kirana@yahoo.com
href="mailto:batara_kirana@yahoo.com">batara_kirana@yahoo.com</A> ; <A
title=ouwehoer@centrin.net.id href="mailto:ouwehoer@centrin.net.id">'Yap Hong
Gie'</A> ; <A title=wisantara@yahoo.com href="mailto:wisantara@yahoo.com">Wahyu
Effendy</A> ; <A title=alexferry@hotmail.com
href="mailto:alexferry@hotmail.com">Alexander Fr</A> ; <A
title=sunny.tanuwidjaja@gmail.com
href="mailto:sunny.tanuwidjaja@gmail.com">Sunny Tanuwidjaja</A> ; <A
title=indrapiliang@csis.or.id
href="mailto:indrapiliang@csis.or.id">indrapiliang@csis.or.id</A> ; <A
title=tommy_l@csis.or.id href="mailto:tommy_l@csis.or.id">tommy_l@csis.or.id</A>
; <A title=hadi_s@pacific.net.id
href="mailto:hadi_s@pacific.net.id">'HSSSTR'</A> ; <A
title=najibazca2002@yahoo.com.au href="mailto:najibazca2002@yahoo.com.au">'najib
azca'</A> ; <A title=mian@fes.or.id href="mailto:mian@fes.or.id">Mian
Manurung</A> ; <A title=linaardelia@yahoo.com
href="mailto:linaardelia@yahoo.com">Lina Alexandra</A> ; <A
title=pjvermonte@yahoo.com href="mailto:pjvermonte@yahoo.com">'Philips
Vermonte'</A> ; <A title=oenic@msn.com href="mailto:oenic@msn.com">Nico
Harjanto</A> ; <A title=hrwg@yahoogroups.com
href="mailto:hrwg@yahoogroups.com">hrwg@yahoogroups.com</A> ; <A
title=lisi@yahoogroups.com href="mailto:lisi@yahoogroups.com">LISI</A> ; <A
title=teguh_yudo@csis.or.id href="mailto:teguh_yudo@csis.or.id">Teguh Yudo</A> ;
<A title=begi_hersutanto@csis.or.id
href="mailto:begi_hersutanto@csis.or.id">Begi Hersutanto</A> ; <A
title=jengningrum@yahoo.com href="mailto:jengningrum@yahoo.com">Ajeng Kusuma</A>
; <A title=lihasan@yappika.or.id
href="mailto:lihasan@yappika.or.id">lihasan@yappika.or.id</A> ; <A
title=banyu@home.unpar.ac.id href="mailto:banyu@home.unpar.ac.id">A A Banyu
Perwita</A> ; <A title=tbace@incis.or.id href="mailto:tbace@incis.or.id">Ace
Hasan Syadzily</A> ; <A title=adison@mail.utexas.edu
href="mailto:adison@mail.utexas.edu">Adison Wongkar</A> ; <A
title=sebastianku71@yahoo.com href="mailto:sebastianku71@yahoo.com">Sebastian
Salang</A> ; <A title=sandrahamid@tafindo.org
href="mailto:sandrahamid@tafindo.org">Asia Foundation Indonesia</A> ; <A
title=selarik@yahoo.com href="mailto:selarik@yahoo.com">Tunggal Pawestri</A> ;
<A title=indryoktaviani@yahoo.com href="mailto:indryoktaviani@yahoo.com">Indry
Oktaviani</A> </DIV>
<DIV><B>Sent:</B> Wednesday, September 28, 2005 8:16 PM</DIV>
<DIV><B>Subject:</B> CSIS Seminar Note: Perspektif Baru Keamanan Nasional, 28
September 2005</DIV></DIV>
<DIV><BR></DIV></FONT></DIV>
<DIV>
<DIV class=Section1>
<P class=MsoNormal><FONT face=Verdana size=2><SPAN style="FONT-SIZE: 10pt">Web
version: <A
href="http://www.csis.or.id/events_past_view.asp?id=82&tab=0">http://www.csis.or.id/events_past_view.asp?id=82&tab=0</A>
</SPAN></FONT></P>
<P class=MsoNormal><FONT face=Verdana size=2><SPAN style="FONT-SIZE: 10pt">Pdf
document: <A
href="http://www.csis.or.id/events_file/82/050928pbn.pdf">http://www.csis.or.id/events_file/82/050928pbn.pdf</A>
</SPAN></FONT></P>
<TABLE class=MsoNormalTable style="WIDTH: 100%" cellSpacing=15 cellPadding=0
width="100%" border=0>
<TBODY>
<TR>
<TD
style="PADDING-RIGHT: 0in; PADDING-LEFT: 0in; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 373.05pt; PADDING-TOP: 0in"
width=497>
<P class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=5><SPAN
style="FONT-SIZE: 18pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perspektif Baru
Keamanan Nasional</SPAN></FONT></P></TD>
<TD
style="PADDING-RIGHT: 0in; PADDING-LEFT: 0in; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 156.6pt; PADDING-TOP: 0in"
vAlign=bottom width=209>
<P class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center" align=center><FONT
face=Verdana color=#336642 size=1><SPAN
style="FONT-SIZE: 7.5pt; COLOR: #336642"></SPAN></FONT> </P></TD></TR>
<TR>
<TD
style="PADDING-RIGHT: 0in; PADDING-LEFT: 0in; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 373.05pt; PADDING-TOP: 0in"
vAlign=top width=497>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"><A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=55&tab=0">Jusuf
Wanandi</A>, salah satu Pendiri CSIS, membuka Seminar <STRONG><B><FONT
face="Trebuchet MS"><SPAN style="FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perspektif
Baru Keamanan Nasional</SPAN></FONT></B></STRONG> yang diselenggarakan
oleh <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Centre for Strategic and
International Studies</SPAN></I> (CSIS) pada tanggal 28 September 2005.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian seminar publik dalam rangka
memperingati 60 tahun kemerdekaan Republik </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">. </SPAN></FONT></P>
<P><STRONG><B><FONT face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sambutan
Utama </SPAN></FONT></B></STRONG></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sambutan Utama
disampaikan oleh Dadi Susanto, Dirjen Strategik Pertahanan, Departemen
Pertahanan Republik Indonesia yang mewakili Prof. Juwono Sudarsono,
Menteri Pertahanan RI yang sedang berhalangan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dalam presentasinya,
Dadi Susanto menguraikan bahwa saat ini telah berkembang wacana untuk
me-redefinisi keamanan yang bermula dari Peristiwa WTO 9/11. Aksi
terorisme yang merebak di segala penjuru dunia telah menyebabkan penguatan
rasa tidak aman yang meluas. Tapi jika kita mengkaji lebih dalam,
terorisme hanyalah satu gejala dari kumpulan kekhawatiran yang lebih luas.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kita lihat banyak
kekhawatiran seperti kemiskinan yang endemis, transisi ekonomi yang
bergejolak seperti di Indonesia sejak krisis ekonomi, kejahatan
internasional yang semakin luas, penyebaran senjata yang mematikan,
pergerakan penduduk skala besar (perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat),
juga kekhawatiran kerusakan lingkungan (polusi, asap kebakaran, dll) dan
penyebaran penyakit menular (flu burung, SARS, dll), juga persaingan untuk
sumber daya alam (minyak dan lainnya). </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Selain perbedaan,
kita juga melihat kebutuhan kerja sama internasional yang menguat. Dalam
melihat kecenderungan global, ada dua gejala yaitu: gejala yang mengikat,
seperti bahasa nasional, dll; dan gejala yang memecah, seperti konflik
etnis, dll. Faktor yang mengikat harus diperkuat sedangkan faktor yang
memecah harus diperlemah. Stategi kreatif lebih baik daripada strategi
responsif ataupun reaktif. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perkembangan
nilai-nilai internasional menjadi nilai-nilai baru yang harus diikuti
seperti hak asasi manusia, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, pasar
bebas, transparansi, telah menerobos kehidupan berbangsa di seluruh dunia
melalui perkembangan teknologi dan informasi. </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> juga pergeseran
kedaulatan, sebagaimana terlihat dari dinamika <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Multi National Companies</SPAN></I> (MNC).
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kecenderungan global
lain adalah gejala “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">winners-and-losers</SPAN></I>”, yang
menghasilkan “<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">the angry
entity</SPAN></I>” yang menjadi dasar-dasar terorisme internasional.
Elemen ini telah melemahkan supremasi negara adidaya. Kehadiran “non-state
actor” menambah komplikasi situasi tersebut. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Melihat geopolitik
Asia Pasifik, kita harus memperhatikan Amerika Serikat sebagai “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">single power</SPAN></I>”, China dengan
“<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">peaceful rising of China</SPAN></I>”,
Jepang sebagai “<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">normal
country</SPAN></I>”, India sebagai “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">the guardian of Indian Ocean</SPAN></I>”, dan
Indonesia dengan Wawasan Nusantara. Asia Pasifik terbagi menjadi Oceania
(yang dipimpin oleh Australia), ASEAN (Indonesia), Asia Timur (Jepang),
Asia Selatan (India) dan China sebagai entitas sendiri yang terkait dengan
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Taiwan Straits Issues</SPAN></I>.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Instabilitas, konflik
internal dan kemiskinan dalam negara-negara miskin hanya dipandang sebagai
kepentingan marjinal oleh negara-negara kaya. Paska 9/11 menunjukkan
perubahan paradigma tersebut. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pandangan terhadap
tantangan keamanan baru berbeda. Negara kaya melihat terorisme, negara
miskin melihat keadilan. Yang terjadi adalah benturan-benturan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Tantangan lain adalah
pertumbuhan penyediaan senjata yang semakin marak dan ancaman perang
melawan terorisme terhadap perang melawan kemiskinan dan lingkungan
melalui pembangunan yang berkelanjutan. Padahal ancaman yang terakhir
tersebut lebih mengkhawatirkan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perlu transisi dan
pengembangan bahasa yang sama dalam menangani masalah keamanan ini.
Definisi terorisme, misalnya, tidak memiliki kesamaan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Senjata itu tidak
secara nyata menyediakan keamanan dan penanganan tidak lagi bisa dilakukan
dengan basis nasional. Lalu fokus tradisionil yang dipegang oleh negara
tidak lagi cukup untuk menangani masalah, mengingat perkembangan konsepsi
“<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">human security</SPAN></I>” atau
keamanan manusia. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Maka Menhan
mengajukan konsep pertahanan militer dan pertahanan non-militer.
Pemerintah demokratis dan masyarakat sipil yang segar bugar (bebas KKN)
pada akhirnya lebih menentukan dalam menjamin keamanan manusia secara
menyeluruh, ketimbang militer. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sekarang ini,
perkembangan prinsip pertahanan global perlu diselaraskan dengan kebijakan
nasional. Kebijakan yang dibuat harus transformatif yang dimulai dari
pemberdayaan institusi publik. Harus juga preventif dan merujuk pada akar
permasalahan untuk menghilangkan permasalahan secara penuh. Kebijakan
keamanan harus bisa membedah masalah dan menyelesaikan secara integratif.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Fenomena intervensi
kemanusiaan sebenarnya bisa diterima, tapi harus menjadi pilihan terakhir
dan dijalankan sesuai aturan-aturan hukum internasional mengingat
Indonesia pernah mengalami trauma pahit dengan Timor Timur dimana
Indonesia dipecah-pecah oleh kekuatan Barat. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perspektif baru
keamanan nasional adalah Keamanan Nasional dalam arti besar – yaitu yang
mencakup “<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">nation-state</SPAN></I>”,
yang bukan merupakan entitas tunggal – negara, bangsa dan masyarakat
(publik dan individu). Indonesia harus <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">inward</SPAN></I> sekaligus <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">outward looking</SPAN></I>. Keamanan Nasional
harus selaras dengan prinsip-prinsip global, tapi juga antisipatif dengan
dinamika global. Perspektif baru juga akan diintegrasikan dalam RUU
Hankam. </SPAN></FONT></P>
<P><STRONG><B><FONT face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sesi
1 – Lingkungan Strategis Indonesia </SPAN></FONT></B></STRONG></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sesi ini diisi dengan
presentasi beberapa pembicara yang diperkenalkan oleh <A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=29&tab=0">J.
Kristiadi</A> selaku moderator. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pembicara pertama, <A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=42&tab=0">Kusnanto
Anggoro</A> , peneliti senior, Departemen Hubungan Internasional, CSIS,
mempresentasikan makalahnya yang diberi judul “Sadumuk Bathuk Sanyari
Bumi” merefleksikan kegundahan hatinya dalam mengikuti proses reformasi
sektor keamanan di Indonesia selamam 6 tahun. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Terlepas dari
berbagai persoalan yang pernah kita dengar selama ini tentang keamanan
nasional, ada beberapa hal yang hilang. Pertama, kita tidak pernah
membicarakan daya tahan keamanan (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">security treshold</SPAN></I>). Kita bicara
hilangnya miliaran rupiah karena pencurian ikan, tapi tidak pernah bicara
betapa itu menyakiti jidat, dada dan hati kita. Kita perlu transformasi
doktrin, postur dan strategi operasional keamanan nasional.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kesulitan kita adalah
kita sangat lemah dalam mengkontekstualisasikan masalah keamanan.
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> impresi yang sangat
kuat seakan-akan </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> berada dalam masalah
besar, tapi hal tersebut tidak pernah diletakan dalam konteks, <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">security treshold</SPAN></I>, dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">strategic response</SPAN></I> yang harus kita
ambil. Yang terjadi hanya kesimpangsiuran. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Brunei</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, Filipina,
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Laos</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dan Kamboja
merupakan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">cluster</SPAN></I> pertama
dan tidak akan mempengaruhi strategi nasional </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">. </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Myanmar</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dan
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Vietnam</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dalam <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">cluster</SPAN></I> kedua perlu mendapatkan
perhatian tapi tidak perlu terlalu dikhawatirkan. </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Vietnam</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> bermasalah dengan
perbatasannya dengan China di Utara dan </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Myanmar</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> bermasalah dengan
domestik politik mereka. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Thailan dan
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Malaysia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> berada pada <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">cluster</SPAN></I> ke-3. Masalah tapal batas
Thailand dengan Malaysia dan Brunei tidak diikuti dengan strategi <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">maritime power</SPAN></I> ketimbang <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">land power</SPAN></I>. Malaysia tengah
membangun kekuatan militer yang besar sepanjang 5 tahun terakhir, terutama
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">inter-region capabilities</SPAN></I>
yang diarahkan ke kawasan Timur. Hal ini akan memaksa Thailan dan Malaysia
untuk berurusan satu sama lain. </SPAN></FONT></P>
<P><I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Cluster</SPAN></FONT></I><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">ke-4 adalah Singapore
dan Australia. Singapore negara kecil tapi memiliki kekuatan yang luar
biasa dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">inter-region
capabilities</SPAN></I> yang lebih dari mencukup postur geo-strategik, ia
memiliki kapasitas <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">pre-emptive</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">high technology</SPAN></I>. Stabilnya politik
domestik membuat Singapura bisa mengalihkan perhatian ke dunia
internasional. </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Australia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> juga serupa, dan
banyak mengembangkan kapasitasnya terutama di bidang maritim.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sekali lagi semua itu
harus diletakkan dalam konteks pertahanan </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">. Dari perkembangan
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">cluster-cluster</SPAN></I> tersebut,
paling hanya menjadikan mereka memiliki kapasitas untuk menghadapi
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">low intensity conflict</SPAN></I> di
wilayah tapal batas. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Masalah <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">piracy</SPAN></I>, <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">arms smuggling</SPAN></I>, dll adalah tantangan
besar, tapi merupakan bentuk konflik lain, sehingga </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> tidak perlu
mencurahkan dana yang terlalu besar. Lebih baik melakukan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">cooperative security</SPAN></I>, dengan menjaga
perairan ramai-ramai mengingat keterbatasan kapasitas pertahanan maritim
Indonesia. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Mengenai respon
Indonesia, <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">strategic defense
review</SPAN></I> yang sedang dibuat nampaknya terfokus pada <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">minimum essential forces</SPAN></I> yang
didasari pada strategi modernisasi (AL dan AU) dan stabilisasi (AD). Yang
tidak terlalu jelas adalah apakah berimbang antara <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">deployment</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">readiness</SPAN></I>. Ada macam-macam
perhitungan yang bisa diperdebatkan, tetapi <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">minimum essensial forces</SPAN></I> bukan
semata-mata modernisasi AL dan AU, dan stabilisasi AD tapi harus ada
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">arm reductions</SPAN></I>. Tren
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">reduction</SPAN></I> ini yang tidak
terlihat. Pola rekrutmen masih sama tanpa <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">reductions</SPAN></I>, mana mungkin ada
stabilisasi dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">minimum essential
forces</SPAN></I> tidak akan tercapai. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kita juga belum
memutuskan dengan jelas apa yang kita mau. Tidak ada seorang pun yang bisa
mengatakan Indonesia mengarah pada apa. Sebenarnya, misalnya, bisa ke arah
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">non provocative defense</SPAN></I>.
Pengembangan kapasitas pertahanan kita sebenarnya bisa dilandaskan pada
prinsip ini sehingga tidak menstimulasi kekhawatiran wilayah lain.
Ketentuan, pasal 22 UU Pertahanan negara No. 3/2002, postur keamanan
Indonesia akan disesuaikan dengan situasi geostrategis. Tapi perwujudannya
masih sulit karena tidak jelas. Padahal kejelasan itu penting untuk
meyakinkan masyarakat internasional. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Situasi yang ada
seperti menunjukkan bahwa tidak ada lagi harga diri dan rasa risau saat
begitu banyak yang sudah dicuri. Perbedaan perumusan Keamanan Nasional,
misalnya, Polisi tidak menerima konsepsi keamanan nasional sebagai objek,
tapi sebagai pendekatan (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">approach</SPAN></I>). Menkopolkam dan
Menkokesra juga berpersepsi sama. Yang bisa terjadi adalah <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">bureaucratic impediments</SPAN></I> dalam
mengembangkan gagasan keamanan. Dukungan dari DPR sangat sulit dipercayai.
Definisi Keamanan Nasional tidak pernah muncul dalam dokumen negara, hanya
keamanan dalam negeri dan keamananan masyarakat. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ikrar Nusa Bhakti,
ahli peneliti utama LIPI, mengawali dengan mengkritik judul buku yang
dibagikan, “Perspektif Baru Keamanan Nasional” karena dalam dalam teori
hubungan internasional tidak ada yang baru. Jika kita bicara mengenai
pendekatan nir-militer/non-militer, juga bukan merupakan suatu hal yang
baru. GBHN 1978 sudah mencanangkan 8 jalur pemerataan sudah bicara tentang
pemerataan keamanan. Kita tahu juga Lemhanas tahun 1979, masa Saidiman,
sudah mengembangan konsep Ketahanan Nasional (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">national resilience</SPAN></I>) yang seudah
berkembang menjadi <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Comprehensive
Security</SPAN></I>. Yang baru adalah pilihan dan pelaksanaannya, entah
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">business as usual</SPAN></I> atau
benar-benar serius menjalankan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada 2 pandangan dalam
melihat dunia. Satu sebagai konsep meja bilyar (realis), negara adalah
bola-bola bilyar yang akan berbenturan untuk mencapai kepentingan
nasional. Persoalan kepentingan nasional yang tidak memandang negara lain
adalah suatu hal yang menyebabkan penonjolan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">survival</SPAN></I> yang berakibat pada
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">military build-up</SPAN></I> atau
perlombaan persenjataan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Keperluan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">minimum essential forces</SPAN></I>, disebut
dengan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">sustainable defense</SPAN></I>,
dimana pertahanan dibangun untuk bisa mempertahankan kedaulatan bangsa dan
keamanan regional maupun internasional. Indonesia jangankan membangun
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">sustainable defense</SPAN></I>, TNI
kita belum bisa mencapai itu baik dalam konteks menjaga ancaman dari dalam
negeri ataupun lingkungan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dua adalah konsep
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">global village</SPAN></I> (idealis)
yang melahirkan konsep <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">cooperative
security</SPAN></I> atau kerjasama keamanan, untuk menjaga anggaran dan
lainnya. Termasuk di dalamnya kerjasama ekonomi, yang lebih banyak
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">losers</SPAN></I> daripada <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">winers</SPAN></I>, dan berakhir pada kemarahan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Mengenai lingkungan
strategis, persoalan hubungan AS dan China sejak awal 2001, masih menjadi
problem yang pelik di Asia Timur Laut, termasuk juga <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">distrust</SPAN></I> antara China dan Jepang.
Ini mengapa tidak pernah ada asosiasi Asia Timur laut, hanya mendompleng
ASEAN. Perkembangan di Korea Utara juga mengarah pada pengembangan positif
ditandai dengan rencana Kim Jong Il untuk mengunjungi AS dan Eropa.
Indonesia juga memiliki masalah tapal batas, misalnya dengan Papua Nugini
(sebagai basis OPM untuk menyerang). Persoalan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Taiwan Straits, South China Sea
</SPAN></I>dan<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic"> Malacca
Straits</SPAN></I> juga masih menjadi tantangan. Persoalan keamanan di
jalur laut yang menghubungi Timur Tengah dan Asia Timur semakin hari
semakin kompleks. Ini menunjukkan betapa enerji keamanan yang terbangun di
Asia Timur akan mempengaruhi dinamika regional. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Bagaimanapun
Indonesia diharapakan, paling tidak. Satu, menjaga perairan Selat Malaka
dan Laut Cina Selatan. Dua, kita juga diharapkan memiliki tanki-tanki
bahan bakar. Akan menjadi problem juga jika kita hanya dijadikan tempat
sedotan BBM untuk China, India dan Jepang tersebut. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Energy security</SPAN></I> akan menjadi problem
karena 3 kekuatan ekonomi besar yang berlomba-lomba menyedot sumberdaya
alam (China, Jepang dan India). </SPAN></FONT></P>
<P><I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Territorial
disputes</SPAN></FONT></I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, yang terkait dengan
border disputes (darat dan laut – Vietnam, Cina dan Malaysia), tidak akan
bisa mengandalkan diplomasi jika <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">sustainable security</SPAN></I> tidak
diterapkan di Indonesia. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Unilateralisme dan
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">balance of power</SPAN></I> juga
menjadi tantangan di Asia Tenggara. Terlepas dari adanya perspektif baru
dalam Keamanan Nasional ini, kita harus ingat bahwa Indonesia tidak lagi
bisa hanya mengandalkan payung keamanan AS yang sering didengungkan oleh
Dubes-Dubes AS di Asia Tenggara dan di PBB yang menyatakan diri sebagai
“<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">benign power</SPAN></I>”. Kita tidak
bisa mengatakan bahwa negara ASEAN lain bisa menjadi <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">buffer states</SPAN></I> untuk Indonesia.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Hidup kita masih
lebih baik dibanding hidup kita 3 hari yang akan datang, di mana BBM akan
naik. Masalah keamanan manusia terkait dengan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">basic income</SPAN></I> akan menghadapi
tantangan besar. <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Food
security</SPAN></I> juga menjadi problem, mengingat pertentangan
petani-petani dan pemerintah (Bulog) yang akan mengimpor beras. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Health security</SPAN></I> dihadapi dengan
polio, flu burung, dll. <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Environmental
security</SPAN></I> dengan penyediaan air. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Personal security</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">community security</SPAN></I> dengan hambatan
mengembangkan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">cultural/ethnic
identity</SPAN></I>. Keberagaman Indonesia harus diperhatikan dan tidak
didasarkan pada keseragaman. <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Political
security</SPAN></I> dalam hal ini <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">protection of basic human rights and
freedom</SPAN></I> juga menjadi masalah. Rasa tanggung jawab seputar
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">freedom</SPAN></I> juga harus
diperhatikan, melihat media/pers yang semakin lama semakin merajalela.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perjuangan Aceh dan
Papua yang terkait dengan separatisme, saat ini gayanya berubah. Dari
pendekatan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">sporadic military
action</SPAN></I>s, menjadi <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">politic
and diplomatic actions</SPAN></I>. Di sini, TNI tidak memiliki kapasitas.
Kesadaran bahwa kemerdekaan dengan konflik fisik diharamkan oleh dunia
internasional, tapi dengan demokratis dihalalkan, maka terjadi perubahan
pendekatan ini. Tanpa kegesitan pemerintah pusat dan daerah untuk merebut
hati masyarakat Aceh, maka permasalahan Aceh tidak akan terselesaikan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Seputar masalah
Papua, ini adalah bukti konkrit kecenderungan Indonesia di mana usulan
yang baik diikuti dengan implementasi yang buruk membawa kegagalan.
Kesungguhan pemerintah dipertanyakan. Pengeluaran pemerintah selama Otsus
lebih buruk daripada jaman Orba, karena dipakai untuk nongkrong oleh
Gubernur di Jakarta atau Bupati/Camat di Jayapura ketimbang di wilayah
masing-masing. </SPAN></FONT></P>
<P><I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Constitutional
constraints </SPAN></FONT></I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">juga menjadi masalah,
karena pelanggaran terhadap konstitusi (bagi Presiden) berdasar pada
interpretasi yang sangat luas. Besok kita akan menghadapi demo
besar-besaran. Tapi kemungkinan melenceng dari masalah BBM menjadi
menurunkan SBY-Kalla. Dalam hal ini, UUD 45 setelah amandemen ke-empat
lebih <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">executive happy</SPAN></I>
daripada <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">legislative happy</SPAN></I>
karena Presiden tidak bisa di-<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">impeach</SPAN></I>. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Persoalan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">communal conflict</SPAN></I> juga menjadi
masalah terutama dikaitkan dengan krisis energi dan kesulitan ekonomi.
Apakah pemerintah baru dan birokrasi baru masih menganggap masalah
keamanan sebagai <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">business as
usual</SPAN></I>, gagasan apapun (baru atau tidak baru) tidak akan ada
artinya. Kita akan kembali pada lingkaran setan: dari demokrasi ke
otoritarianisme ke demokrasi lagi dan seterusnya. Ini juga tergantung
apakah gerakan mahasiswa akan tetap menjadi gerakan moral ataupun gerakan
politik. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"><A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=29&tab=0">J.
Kristiadi</A> mengangkat situasi masa lalu di mana konsep “aman” malah
menakutkan masyarakat. “Diamankan” berarti hilang. Untuk itu, redefinisi
konsep aman memang selalu harus didiskusi bersama. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ali
Alatas</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> pada akhir sesi
pertama memberikan beberapa masukan berkaitan dengan potensi peran
diplomasi dalam konteks Keamanan Nasional. </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ali
Alatas</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> mengangkat
pengalaman ASEAN dalam menyusun strategi bersama dan doktrin pertahanan
dan keamanan bersama. Hal tersebut dimulai dengan menilai <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">the nature of threats</SPAN></I> dalam waktu
yang agak panjang dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">the directions
of the threats</SPAN></I>. Waktu itu kesimpulannya bahwa <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">the nature of the threats</SPAN></I> terhadap
Indonesia dan ASEAN bukanlah berbentuk invasi atau serangan tradisional
tetapi lebih berbentuk subversi dan infiltrasi – baik yang didukung oleh
luar atau bersumber dari dalam negeri – dan dipandang akan berlaku selama
20 tahun ini. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kemudian, <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">the directions of the threats</SPAN></I>,
kesimpulannya adalah bahwa ancaman datang dari Utara, yang kemudian
disalahartikan sebagai China saja. Padahal bukan itu maksudnya, tetapi
bentuk ancaman yang bisa timbul karena interaksi 4 kekuatan besar di Utara
(Uni Soviet, Jepang, China dan Amerika) yang saat ini hubungannya tidak
seimbang selama Perang Dingin. Sekarang ini, Uni Soviet sudah hilang dari
peredaran, tapi tetap pandangan saat itu mengarah pada ancaman Utara dalam
konteks ketidakseimbangan interaksi 4 negara itu, entah itu berupa konflik
Taiwan, dan lainnya. Berdasarkan itu, kita susun strategi kita untuk 20
tahun yang bermula dari strategi nasional menjadi strategi ASEAN. Dan ada
kerjasama antara Deplu dan Dephan saat itu, yang saat ini tidak lagi
berlangsung secara baik. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Apa artinya untuk ke
dalam? Dalam menyusun angkatan perang kita, bukan berarti matra AL dan AU
diperlemah, sebab kelemahan-kelemahan kita adalah subversi dan infiltrasi,
termasuk <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">smuggling, piracy, unresolved
border disputes</SPAN></I>, dan sebagainya. Dan ini memerlukan kombinasi
diplomasi dan kekuatan militer. Tetapi ini juga menghasilkan keputusan
agar kita tidak lagi memburu kapal-kapal besar (dalam konteks AL), tapi
konsentrasikan pada kebutuhan kita yaitu <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">fast patrol boats</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">frigates</SPAN></I>. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kelemahan-kelemahan
antara lain, tentang AL dan Polisi Air (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Coast Guard</SPAN></I>). Jepang, misalnya,
ingin membantu dengan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Coast
Guard</SPAN></I> dan kapal-kapal, tapi tidak bisa karena Konstitusi Jepang
melarang bantuan militer. Jepang mengusulkan dibuat <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">civilian coast guard</SPAN></I> supaya
kapal-kapal Jepang bisa diberikan kepada Indonesia. Tapi hingga saat ini
Indonesia masih belum mampu. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kita punya masalah
dengan ASEAN, memang betul, tapi masih dalam konteks subversi dan
infiltrasi yang masih bisa ditangani dengan diplomasi dan kekuatan
militer. Pertanyaan </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ali
Alatas</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> adalah dalam
menyusun strategi keamanan kita sekarang ini, apakah pemikiran-pemikiran
yang dulu itu sudah tidak lagi relevan karena situasi sudah berbeda atau
karena tidak diperhitungkan lagi relevansi dan validitas tersebut.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Selain itu, yang
kedua, terjadinya <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">fundamental
revision</SPAN></I> dari konsep <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">security</SPAN></I>, yang tidak lagi
diinterpretasikan inter dan intra negara, tetapi juga mengikutsertakan
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">infectious diseases, transnational
crime</SPAN></I>, <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">terorism,
environmental threats</SPAN></I>, dll. Hal ini dulu sempat ditolak oleh
kelompok Barat tapi sekarang ini sudah diterima. Hal lain yang akhirnya
diterima juga adalah bahwa semua aspek ancaman keamanan ini oleh semua
negara harus diinterpretasikan sebagai sama rata dan sama pentingnya.
Dengan kata lain, AS tidak bisa berargumentasi kepada negara berkembang
bahwa hanya terorisme saja yang penting. Bagi kita, yang sama pentingnya
adalah ancaman kemiskinan, kelaparan dan penyakit menular.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ambiguitas yang masih
eksis adalah kecenderungan kelompok Barat untuk selalu menekankan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">non-proliferation</SPAN></I>, tapi tidak pernah
mau menyentuh <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">disarmament</SPAN></I>.
Ini adalah juga tantangan di masa yang akan datang. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"><A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=42&tab=0">Kusnanto
Anggoro</A> kemudian menegaskan bahwa cara pandang yang sama masih ada di
buku putih keamanan nasional. Yang dipersoalkan dalam membicarakan Thailan
dan ancaman dari Utara atas dasar ketidakseimbangan adalah bentuk
manifestasi dari pandangan tersebut. Apakah akan menjadi <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">mini arms race</SPAN></I> atau <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">limited conventional conflicts</SPAN></I> atau
lainnya? Karena ini penting untuk merumuskan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">strategic response</SPAN></I> Indonesia.
Kusnanto juga mengaskan bahwa harus tetap menitikberatkan pada soal-soal
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">security</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">survival treshold</SPAN></I> dan detil
pelaksanaan kombinasi pendekatan diplomasi dan aksi militer. Masalahnya,
ketidakjelasan eksis di tataran operasional, ketimbang di tataran <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">high level decision making</SPAN></I>. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Concrete strategic response</SPAN></I> sangat
dibutuhkan. </SPAN></FONT></P>
<P><STRONG><B><FONT face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sesi
2 –Doktrin dan Strategi Keamanan Nasional </SPAN></FONT></B></STRONG></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Setelah makan siang,
sesi kedua dibuka oleh </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Agus
Widjojo</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, senior Fellow CSIS.
Pembicara pertama, </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Andi
Widjajanto</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, staf pengajar di
FISIP UI, mempresentasikan “Strategi Raya Indonesia (SRI)” yang didasarkan
pada rangkaian penelitian yang dilakukan UI, LIPI dan CSIS dari tahun 2003
hingga saat ini (direncanakan akan tetap berlangsung hingga 2007).
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Landasan berpikir
adalah 5 unsur pembentuk SRI. Tapi Andi hanya akan berfokus pada ekonomi
pertahanan dan dinamika persenjataan yang nampaknya belum banyak digeluti
di kalangan akademisi. Nilai dasar bangsa adalah pembukaan UUD 1945.
Kepentingan Nasional dapat diasumsikan tertuang dalam PerPres No. 7/2005
tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah (2004-2009).
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Saat ini pertahanan
Indonesia adalah pertahanan yang didikte anggaran (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">budget driven defense strategy</SPAN></I>).
Anggaran bukan sebagai instrumen, tapi pendikte. Pertumbuhan anggaran
pertahanan nampak signifikan dari 2000 hingga 2004 yang menunjukkan
komitmen pemerintah untuk memperhatikan sistem pertahanan kita termasuk
peningkatan anggaran pembangunan, ketimbang anggaran rutin. Proporsi
anggaran hampir ideal 30% rutin 50% pembangunan 20% litbang. Saat ini
masih 70% rutin 29% pembangunan dan 1% litbang. Sumber anggaran 30% dari
pemerintah dan 70% dari luar (bisnis militer). Pemerintah memenuhi 70%
dari permintaan Dephan. Berdasarkan data-data resmi, komitmen pemerintah
memang nampak. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Yang penting adalah
pecahan-pecahan anggaran pertahanan, dalam arti kredit ekspor, membeli
dengan berhutang, terlihat bahwa terjadi peningkatan alokasi kredit ekspor
yang cukup signifikan, sehingga presentasi terhadap anggaran pertahanan
terus meningkat. Artinya 18-22% dari hutang negara adalah hutang pembelian
senjata. Hal ini bukan hal yang bijak, karena hal ini tidak produktif
dalam memancing pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat. Harusnya di
setiap Sukhoi yang kita miliki harus ditempeli stiker ”Hutang belum lunas,
jangan ditembak”. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Merujuk pada aspek
Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan), kita bisa melihat pengadaan
senjata konvensional berdasarkan anggaran, ada 173 jenis senjata
konvensional yang dimiliki Indonesia, padahal hanya 47 sampai 51 jenis
yang biasanya dimiliki oleh satu negara. Ini melonjakkan biaya <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">maintenance</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">training</SPAN></I> karena keberagaman jenis
tersebut membutuhkan jenis <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">maintenance</SPAN></I> dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">training</SPAN></I> yang berbeda. Efisiensi
menjadi hampir tidak mungkin. Dari segi data-data Alutsista, maka
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> adalah bagian
integral dari NATO. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Apakah Alutsista yang
kita miliki memiliki kapasitas <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">deterrence</SPAN></I> </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">? Pertama, ada
pergeseran dari operasi anti gerilya menjadi kapasitas konvensional (Rapid
Reaction Force untuk </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">). Ciri kedua, upaya
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">integrated armed forces</SPAN></I>.
Ketiga, terjadi <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">competitive
acquisition</SPAN></I> yang melibatkan diversifikasi supplier (US,
Inggris, Belanda, dan kemunculan </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Russia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, Cina dan Korea
Selatan). </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Menilai kapasitas
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">deterrence</SPAN></I>,
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> memiliki <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">man power</SPAN></I> yang cukup tinggi, tapi
dibandingkan dengan luas teritorial, tidak mencukupi dan paling berat
untuk angkatan darat. Arti</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">ler</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">i (tank) tidak akan
bisa menjadi faktor <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">deterrence</SPAN></I> </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> untuk Asia Tenggara
mengingat kesulitan pergerakan tank-tank bisa mempengaruhi. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Combat aircraft capacity</SPAN></I>,
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> paling terbelakang
(</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Malaysia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> tertinggi). <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Naval combat ships capacity</SPAN></I>,
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> di urutan ketiga
(setelah </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Thailand</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dan
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Malaysia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">). Pengembangan kita
hanya ke kelas <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">frigates</SPAN></I>,
bukan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">carriers</SPAN></I>.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perlu suatu
transformasi pertahanan dalam manajemen pertahanan dan pembuatan kebijakan
dalam mengakuisisi persenjataan. </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> tiga skenario
transformasi yang ditawarkan. Transformasi pertama tentang Strategi Raya,
yang pertahanannya memprioritaskan dua alternatif. Satu, gelar operasi
militer (<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">Deployment and
Employment</SPAN></I>) yang terus menerus dikerahkan untuk konflik tanpa
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">training</SPAN></I>, tanpa istirahat
ataupun lainnya. Ini untuk negara dengan ancaman nyata, yaitu tingkat
konflik rendah yang terus terjadi. Dua, <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">strategic readiness</SPAN></I> di mana tentara
disiapkan untuk strategi terburuk yang bisa dibayangkan. Tingkat
eskalasinya relatif rendah. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Transformasi kedua
tentang postur pertahanan yang terkait dengan: Organisasi pertahanan;
Kapabilitas pertahanan (matra darat/laut/udara dan akuisisi alutsista) –
di mana saat ini harusnya difokuskan pada matra laut dan udara. Doktrin
kekuatan darat harus dikembangkan, bukan doktrin angkatan darat, sehingga
bisa dipakai AU dan AL (<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">land power,
sea power and air power</SPAN></I>); Gelar Pertahanan, dan; Anggaran
Pertahanan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Model KODAM dan
BABINSA tidak bisa dipakai untuk taktik mundur gerilya karena strukturnya
besar di pusat dan mengecil di daerah. Harusnya strukturnya sama besar.
Divisi Papua dari Kostrad, misalnya, tidak ada pangkalan udara maupun laut
yang dekat (udara tetap di </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Semarang</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, Laut tetap di
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Surabaya</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">). Bagaimana mengirim
pasukan dari Papua ke Poso? Akan boros jadinya, karena harus diterbangkan
dari Surabaya/dilayarkan dari </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Surabaya</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, ke Papua baru ke
Poso. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Transformasi ketiga
adalah Alternatif Postur. Berdasarkan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">objective force</SPAN></I>, apakah pemerintah
mau menjadi kekuatan regional atau mempertahankan pertahanan berlapis
dengan kompartemen berlapis dengan KOTER? </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Manajemen
pengembangan Alutsista, secara teoritis bisa bergantung pada: <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Arms reduction; Arms mainenance; Arms
modernization; Arms build-up, </SPAN></I>dan<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic"> Arms race</SPAN></I>. Proyeksi yang ditawarkan
2004, </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> berat di arms
maintenance karena kebanyakan “peti mati udara”. Kekhawatiranny adalah
ketika menuju 2009, TNI harus menghadapi kenyataan pahit pengurangan
senjata dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">arms disposal</SPAN></I>
meningkat karena terlalu tua dan maintenance mahal. Dengan demikian, arms
structure kita lemah, sehingga hanya bisa bergantung pada disposal.
Mungkin 2014 kita bisa arms build-up. Idealnya 2024, antara arms
modernization and arms maintenance itu imbang. Arms build up seimbang
dengan arms modernization. Lalu bisa membuat arms modernization dan arms
build up yang dominan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Berdasarkan
trajektori anggaran pertahanan, kita dalam kondisi 70-29-1, proyeksi
menuju ideal adalah dengan menghapus utang luar negeri (yang mungkin baru
bisa dilakukan 2009 – dengan kesepakatan nasional untuk tidak membeli
senjata dengan hutang). Tahun 2019, elemen cicilan mungkin masih ada. 2024
mungkin pembelian dengan hutang benar-benar hilang. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kesejahteraan
prajurit harus menjadi prioritas. Berdasarkan sebuah perhitungan kasar,
setiap peningkatan 5000 rupiah untuk lauk pauk prajurit, negara harus
mengeluarkan 720 milyar rupiah dan untuk kenaikan gaji 1 juta, harus
dikeluarkan 4,8 triliun rupiah per tahun. Banyak pembuat kebijakan yang
mengatakan itu hal kecil, tapi pertanyaannya mengapa sampai sekarang uang
sekitar 5 triliun rupiah tiap tahun itu tidak pernah turun.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> 17 jenis teknologi
pertahanan, tapi kita bisa menepiskan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">nuclear systems technology</SPAN></I> untuk
mencegah embargo. Tapi alternatif lain masih ada, jadi sebaiknya kta
menggunakan kesempatan yang ada. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Jendral (Purn.)
Sudrajat, mantan Dirjen Strategi Pertahanan, Departemen Pertahanan,
mencoba mengomentari bagaimana membangun TNI terutama perencanaan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">blueprint</SPAN></I> yang sampai sekarang tidak
pernah ada. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dalam mensiasati
sistem pertahanan kita, kita perlu melihat perubahan lingkungan strategis
saat ini. Korslet pemikiran lintas generasi sering terjadi. Berdasarkan
buku putih, ada 3 ancaman yang diperkirakan oleh </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">. Secara politis bisa
disampaikan bahwa invasi militer tidak akan terjadi 5-10 tahun ke depan,
bahkan 15 tahun. Yang dihadapi </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS"
size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dalam 10-15 tahun
mendatang adalah isu-isu keamanan dalam negeri, yaitu masalah integritas
teritorial, konflik komunal, ekstrimisme, kesenjangan politik dan ekonomi.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Harus dilihat kembali
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">how we design our military in the
future</SPAN></I> terutama dengan tantangan non-tradisional. Apakah flu
burung itu kerjaan militer? Atau kabut asap? </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Tentara punya 3
fungsi: Faktor <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">deterrence</SPAN></I>,
faktor penindak dan faktor perehabilitasi. Ini harus menjadi landasan
pokok pembangunan pertahanan. Sudrajat setuju dengan penilaian
</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Andi
Widjajanto</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> mengenai pemilihan
antara tank atau kapasitas angkut udara. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Deterrence</SPAN></I> harus dipertimbangkan
dengan baik, terhadap negara lain atau terhadap kekuatan separatis?
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Definisi kepentingan
pertahanan nasional kita masih belum dijelaskan. Ini akan menjadi tugas
Dewan Keamanan Nasional dan Presiden. Dephan harus menggodok substansi
setiap hari. Jangan sampai seperti anak kecil yang datang ke <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Toys-R-Us</SPAN></I> yang melihat sebanyak apa
ibu punya uang. Sehingga terjadi perebutan uang antar angkatan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Doktrin pertahanan
pun tidak ada. Tri Ubaya Sakti dan Catur Dharma itu adalah Doktrin
Kejuangan TNI. Tidak ada doktrin yang mengatur who is doing what. UU TNI
seperti salah satu dari doktrin. Siapa yang buat <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">grand strategy, military strategy, operational
strategy</SPAN></I>, belum jelas semua. Buku putih adalah grand strategy
pertahanan yang dibuat Dephan dan disetujui Presiden dan Parlemen
sebagaimana diatur dalam UU Pertahanan. Selama demokrasi dan reformasi,
semua diacak-acak. Semua UU itu dibuat tapi belum dilaksanakan, masih mau
membuat RUU-RUU lain. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Hankamrata tidak bisa
direduksi menjadi “nir-militer” semata, tetapi lebih merupakan totalitas
pertahanan bangsa untuk keamanan, tapi bukan seluruh masyarakat turun ke
jalan untuk berperang. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">KOTER yang disiapkan
di darat, misalnya, harus dievaluasi fungsinya. Kalau dikatakan untuk
perang gerilya, mungkin bisa diterima. Tapi apa yang akan datang, kita
akan perang gerilya lagi? Doktrin yang ada adalah rekaman sejarah yang
sekarang sudah tidak relevan. Hal ini disebabkan tidak pernah dilakukannya
penilaian situasi strategis kontemporer. Akibatnya, prajurit kita
bermental dan hanya siap untuk gerilya dan perang tradisional. Mereka
tidak siap menghadapi perang non-konvensional. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kerugian dari illegal
loging dan pencurian ikan mencapai 8 milyar dolar setahun. Terlepas dari
akurasi data, kita harus menentukah apakah itu masalah esensial negara
atau bukan dan setelah itu apakah itu perlu menjurus pada <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">deployment of military</SPAN></I> atau tidak.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">UU mengatakan TNI
digerakkan oleh Presiden dan mekanismenya ditentukan oleh siapa Presiden
atau Menhan atau Panglima? Presiden, Dewan Keamanan Nasional, Dep Keuangan
dan Dephan yang menentukan lalu dicari persetujuan DPR. Lalu siapa yang
menentukan pengiriman senjata/kapal apa, atau bentuk serangan apa yang
akan dilakukan. Hal ini belum jelas mekanismenya karena tidak ada
doktrinnya. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> perubahan tatanan
saat ini, sehingga harus ada penghargaan pada setiap institusi yang
terkait – Presiden, Dewan Keamanan Nasional, Panglima TNI, dan lainnya.
Saat ini kacau, Sukhoi yang menentukan KSAU dan Departemen Perdagangan,
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">carrier</SPAN></I> yang menentukan
KSAL, tank KSAD. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Selama ini kita babak
belur dengan embargo US, tidak ada satupun yang mengatakan “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">let’s go East</SPAN></I>” untuk pembelian
senjata. Hanya <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">mumbling</SPAN></I>,
karena doktrin pertahanan yang belum jelas. Membahas lingkungan strategis,
ketahanan nasional dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">grand strategy
instrument</SPAN></I> (diplomasi, ekonomi dan militer). Doktrin militer
harus ada pencantuman hubungan TNI dan Departemen Pertahanan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">UU TNI mengatakan di
masa yang akan datang TNI akan berada di dalam Dephan. Esensinya adalah
manajemen pertahanan dikelola oleh satu institusi yang solid, tidak ada
dikotomi sipil-militer, ada sinkronisasi dan frekuensi wacana dan
implementasi. </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> 5 markas besar yang
memimpin sekarang: Mabes AD, Mabes AL, Mabes AU, Mabes TNI, Mabes
Pertahanan. Idealnya 4 mabes itu dijadikan satu di bawah Dephan. Kita
terlalu sibuk berkelahi di dalam dan berebut sumber daya. Satuan-satuan
organik jangan dibuat memikirkan reformasinya sendiri. Harus ada satu
institusi yang melakukan itu untuk mereka. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Menanggapi pertanyaan
dari forum, </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Andi
Widjajanto</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> menjelaskan bahwa
dimensi keamanan komprehensif harusnya tidak hanya terdiri dari dimensi
militer. Keamanan di laut seharusnya tidak semata-mata menjadi tanggung
jawab </SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">AL</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">, tapi harus didukung
oleh angkatan-angkatan yang lain dengan koordinasi yang lebih efektif.
Karena keamanan adalah konsep yang multidimensional, maka keamanan bukan
hanya kewenangan militer. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dijadikan
sekuritisasi, kalau perlu di-(di)sekuritisasi. Jangan sampai flu burung,
misalnya, menjadi isu keamanan karena bukan isu Menkopolkam dan isu
Presiden. Jika terjadi, ini adalah kegagalan berlapis dari struktur
lembaga pemerintahan. Pencegahan eskalasi isu menjadi isu keamanan adalah
pesan dari konsep keamanan komprehensif. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dewan Pertahanan
Nasional sejak 2002 belum dibentuk, Wantannas bukan DPN, karena UU No.
3/2002 mengatur secara detail keanggotaan DPN. Selama DPN belum ada,
kebijakan apapun kebijakan keamanan/pertahanan di Indonesia itu secara
legal formal menjadi kebijakan cacat hukum. Presiden nampaknya tidak
menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang sangat serius.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Litbang memang masih
sangat tidak didukung, karena masih 1% per tahun dan itu pun pos
fungsional bukan pos yang berdiri sendiri. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sehubungan dengan
dinamika pasar senjata, pasar senjata adalah pasar monopsoni. Pasar
monopsoni dalam teori ekonomi makro, kurva penawaran dan permintaan tidak
bisa digambar karena pembelinya cuma satu sedangkan suppliernya banyak.
Dengan demikian, pemerintah harus subsidi. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Tentang pengadaan
senjata, ada dua keputusan baru Menhan yang sedang SK Menhan No. 1/2005
(Januari) tentang penggunaan kredit ekspor dan SK Menhan No. 3/2005
(Februari) tentang penggunaan persenjataan. Berdasarkan SK Menhan No.
1/2005, Bappenas dan Menko Ekuin yang harus menyetujui penggunaan kredit
ekspor dulu. Baru kemudian dibentuk organisasi proyek dan dibuat spakta
integritas yang melibatkan 41 pejabat dari Menhan hingga bagian penerimaan
dan harus diumumkan ke publik. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sudrajat menekankan
perlunya mereformasi sistem penganggaran pertahanan </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">. Selain itu, ia juga
menambahkan pentingnya peran unversitas dan lembaga penelitian sebagai
partner adalah langkah penting untuk mendampingi proses perancangan
pertahanan nasional. Departement Pertahanan dan TNI sudah saatnya
berkolaborasi dengan mahasiswa, universitas dan lembaga penelitian untuk
mengolah substansi. Litbang di Dephan itu sulit berkembang, karena isinya
staf-staf yang mandek karirnya. Pengajar yang direkrut bukan orang brilian
dan bagaimana staf yang menjadi murid-muridnya bisa brilian? Macan masuk
kandang kambing, keluarnya jadi kambing. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Berkaitan dengan
hubungan Polisi Laut dan AL, harus dijelaskan batas-batasnya. Waktu itu
Polisi Udara hampir membeli Hercules, untung ditolak Presiden Megawati
setelah mendapatkan masukan dari pembicara. Bayangkan jika Polisi mempunya
Hercules dan mengatur keamanan udara sendiri, bisa-bisa nanti membeli
F-16. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Seputar kekerasan dan
penutupan tempat ibadah, nilai-nilai HAM yang dianut oleh aparat keamanan
belum stabil dan masih dalam posisi yang gamang. Selain itu kehadiran FPI
sebagai sebuah bentuk milisi harus diatur dalam RUU Keamanan Masyarakat.
Tidak bisa sipil diberi seragam dan dipersenjatai seperti ini.
</SPAN></FONT></P>
<P><STRONG><B><FONT face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sesi
3 – Perspektif Baru Keamanan Nasional </SPAN></FONT></B></STRONG></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sesi ini dimoderatori
oleh <A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=53&tab=0">Harry Tjan
Silalahi</A>, Ketua, Pembina, Yayasan CSIS. Pembicara pertama, <A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=35&tab=0">Edy
Prasetyono</A>, Ketua Departemen Hubungan Internasional, CSIS. Poin
pertama adalah pengertian dari <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">comprehensive security</SPAN></I> sebagai
perluasan dari konsep keamanan. Proses sekuritisasi yang disebutkan sejak
awal biasanya melalui proses politik, yang seringkali berakibatkan semakin
meluasnya domain dan peran negara. Perluasan keamanan ini membawa
konsekuensi politik yang harus kita terima. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pertanyaan pertahanan
nasional harus diawali dengan pertanyaan “keamanan siapa”, “aman dari
siapa” dan “bagaimana mencapainya”, juga “siapa yang merumuskan konsepsi
keamanan ini”. UU mengatur bahwa pembuat kebijakan politiklah yang
merumuskan ini. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Edy juga heran
mengapa belum ada yang menyentuh elemen Polisi dan tanggung jawab tindakan
Polisi. Fungsi kepolisian mencakup tiga hal: perlindungan masyarakat,
penegakan hukum dan pelayanan, pada dasarnya ada fungsi pemerintahan di
manapun di dunia ini. Saat negara sedang memprioritaskan masalah keamanan,
maka polisi diletakkan di bawah Departemen Dalam Negeri. Jika fokusnya
adalah penegakan hukum maka di bawah Departemen Pertahanan. Harus ada
entitas politik yang mempertanggungjawabkan segala hal yang dilakukan
instrumen keamanan. Hal ini yang belum ada dalam lembaga Kepolisian
sehingga kerancuan terus berlanjut. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Interpretasi pasal 30
UUD 1945 sering dilakukan secara liar. Hankamneg seringkali dianggap
sebagai keamanan nasional. Pasal itu memuat semua aspek keamanan nasional
dan pendapat ini yang ditentang oleh </SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Edy
Prasetyono</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> karena hal-hal lain
di luar defense di luar pasal 30 sudah diatur oleh UU lain (ekonomi oleh
pasal 33, dan seterusnya). Semua dokumen mengenai sishankamrata sudah
mengatur tentang manajemen dan membangun sistem untuk menghadapi
peperangan. Untuk itu pasal 30, hanyalah mengenai pertahanan negara.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Salah satu dokumen
menyatakan bahwa sishankamrata dilakukan bisa dengan memeras musuh hingga
takluk. Ada orang yang mengatakan bahwa sishankamrata adalah sebuah sistem
yang diterjemahkan ke dalam strategi perang gerilya, atau anti-perang
gerilya. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kritik atas sisi
anti-perang gerilya, pada era saat ini dan mengingat teritori Indonesia,
maka kita harus memiliki helikopter serang. Celakanya, Indonesia tidak
memiliki kapasitas atau fasilitas seperti itu. Selain itu, karena sistem
persenjataan kita yang kurang bagus lalu kita menggunakan sistem gerilya,
maka kita harus asumsikan bahwa musuh memiliki senjata yang bisa dipakai
untuk menghadapi gerilyawan jadi kita harus punya senjata anti-helikopter
serang. Dikotomi ini membingungkan karena Indonesia bukan dua-duanya.
Harus ada perspektif baru mengenai hankamrata. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dari segi nilai, kita
sering mengatakan bahwa hankamrata adalah “kekhasan” Inodnesia, padahal
tidak ada kekhasan Indonesia. Di mana pun saat perang, akan ada doktrin
untuk menggalang seluruh potensi nasional untuk keperluan pertahanan
negara. Hankamrata di Singpura disebut “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">total defense</SPAN></I>”, “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">People’s war</SPAN></I>” di China dan Vietnam,
dan Sistem konskripsi di Barat. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Masalahnya, kita
tidak pernah mentransformasi sishankamrata ke sebuah mekanisme atau sistem
yang operasional. Siapa yang harus mengerahkan? Atas dasar apa? Kapan?
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Perlu aturan tentang
mobilisasi umum. Apa TNI bisa langsung mengerahkan atau apa? Keterkaitan
antar industri agar produknya bisa untuk disumbangkan ke kebutuhan
pertahanan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Hal lain, selalu ada
pertentangan dalam menilai <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">geographic
reality</SPAN></I> di Indonesia. UU mengatur bahwa dalam aspek keamanan
nasional, pengembangan kekuatan pertahanan Indonesia harus didasarkan pada
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">geographic reality</SPAN></I>. Ada
beberapa penafsiran di 2 kubu perdebatan. Penafsiran pertama, penafsiran
matra laut, karena duapertiga wilayah kita adalah laut dan jumlah pulau
(yang sering disebut pembicara sejumlah 17.845), maka pertahanan kita
harusnya pertahanan kelautan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Penafsiran kedua,
penafsiran matra darat dengan konsep “pertahanan pulau besar”, yang secara
historis selalu dikemukakan, yaitu bahwa sistem inter-kontinental yang
didasarkan pada beberapa pulau besar yang dijadikan basis pertahanan
(pertahanan pulau besar). Asumsinya, dalam skenario paling buruk, setiap
basis pertahanan bisa independen dan bersatu dengan rakyat yang pada
akhirnya menjustifikasi struktur teritorial. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Letjend (Purn) TB
Simatupang 1954 menulis buku berjudul “Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam
Damai”. Halaman 77 ada kalimat yang menggelitik, dan dikatakan “banyak
angkatan perang yang hancur oleh karena para pemimpinnya hanya melihat ke
belakang, melihat sejarah. Dan karena itu merkea lupa mempersiapkan
angkatan perang untuk masa sekarang dan masa yang akan datang padahal
peperangan selalu ada di masa sekarang dan yang akan datang.” Secara
singkat, kecenderungan untuk salah menginterpretasikan sejarah sering
terjadi. Sultan Agung yang sering menggunakan blokade laut, misalnya,
dengan mudah dikalahkan Belanda. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Analisa kedua adalah
adanya <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">legacy</SPAN></I> yang lain
yang jauh sebelum Sultan Agung. Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya hancur,
karena perompak bisa memisahkan kekuasaan pusat dan taklukan di laut.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Waktu dikalahkan oleh
Napoleon, pemerintah Inggris di Hindia Belanda melancarkan serangan agar
menghindari perang di Eropa. Belanda yang awalnya ingin membangun armada
laut, akhirnya malah membangun jalan Anyer Panurukan untuk mobilisasi
armada darat karena orientasinya bukan menghadapi tantangan keluar, tapi
tantangan dari dalam. Pelajarannya adalah kita mewarisi sistem sejarah
tanpa mempelajari kesalahan-kesalahan sejarah itu. Re-interpretasi sejarah
mutlak dilakukan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Ada</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dikotomi
sipil-militer, yaitu dalam konteks sistem politik – di mana kejelasan
perbedaan sipil (mereka yang diberi kewenangan oleh rakyat untuk mengatur
negara) dan militer harus konsisten. Siapa yang punya otoritas politik dan
siapa yang menjalankan perintah dari otoritas politik sesuai dengan
kebijakan yang disepakati bersama. Ketiadaan dikotomi sipil-militer hanya
ada di negara fasis atau komunis. Yang paling sederhana adalah analogi
punya uang satu triliun, maka pembicara bisa membuat tentara atau membawa
senjata. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Militer adalah
satu-satunya institusi yang anggotanya harus siap mati karena tugasnya.
Militer ada satu-satunya institusi yang hak dasarnya dipotong – yaitu hak
politik (hak untuk dipilih dan memilih). Untuk itu harus ada kompensasi
dengan dimakmurkan kesejahteraannya. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"><A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=46&tab=0">Rizal
Sukma</A>, Wakil Direktur Eksekutif, CSIS, memulai dengan catatan
berdasarkan observasi diskusi dari awal. Mungkin secara konsep, kita
mendengungkan konsep keamanan yang komprehensif. Tapi dalam realitas,
ketika kita bicara mengenai keamanan nasional, kita mereduksi hal tersebut
menjadi ketahanan nasional. Ini adalah problem dari kesulitan untuk
memperkecil kesenjangan antara apa yang kita pikirkan/bicarakan dengan apa
yang kita lakukan. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Konsep keamanan
nasional memang berakar secara teoritis dan normatif dari negara Bart.
Untuk itu perlu berhati-hati dalam menggunakannya, karena di negara
berkembang lebih tepat konsep “<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">national (in)security</SPAN></I>”. Bukan
memaksimalkan keamanan nasional, tetapi lebih pada meminilasasi
ketidakamanan nasional. Kerangka ini yang harus dibangun dulu.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Saat membantu membuat
buku putih pertahanan, kita selalu mentok karena tidak memiliki acuan.
Politik dan Strategi Keamanan Nasional yang dijadikan rujukan jaman Orde
Baru, tapi untuk saat ini tidak jelas mana yang bisa dijadikan rujukan.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Dalam membicarakan
“<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">national (in)security</SPAN></I>”,
kita melihat manajemen internal dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">security threats</SPAN></I> untuk kepentingan
nasional. UUD 1945 sudah memuat <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">core
values</SPAN></I> yang mengatur sat negara mendapatkan ancaman – yang
memuat <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">justice, welfare, security,
</SPAN></I>dan<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic"> peace</SPAN></I>. Dalam
konteks sekarang, kita sepakat bahwa tujuan nasional kita ada 4:
</SPAN></FONT></P>
<OL type=1>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Upaya untuk
mepertahankan integritas dan kedaulatan wilayah (<I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">territorial integrity and
sovereignty</SPAN></I>). </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><I><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Maintenance
of social integrity</SPAN></FONT></I><FONT face="Trebuchet MS"><SPAN
style="FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">dengan pluralisme etnis, agama dan
pandangan politik. </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pemerataan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">welfare justice</SPAN></I>. </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pemeliharaaan
lingkungan eksternal yang damai. </SPAN></FONT></LI></OL>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Kita harus
membicarakan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">state-building</SPAN></I>
yang sebenarnya belum selesai dan harus menjadi inti dari yang ingin kita
capai. Banyak sekali persoalan yang disebabkan oleh stagnannya proses
state-building. Termasuk <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">ethnic
violence</SPAN></I>, <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">religious
conflicts</SPAN></I>. Membicarakan Pancasila saat ini menjadi tidak
popu</SPAN></FONT><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">ler</SPAN></FONT><FONT
face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"> dan dituduh antek
Orde Baru. <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">State-building</SPAN></I>
harus diredefinisi, bukan pembangunan negara/pemerintah, tapi bangsa. Yang
harus dicapai menyeimbangkan antara kekuatan negara untuk melaksanakan
kebijakan dan menjunjung hukum dengan lingkup dari kewenangan negara itu
sendiri, yaitu area-area mana saja yang harus diatur oleh negara.
</SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Apakah negara harus
mengurus perempuan harus pakai jilbab atau tidak? Atau pengaturan mandi
junub? Perlu ada keseimbangan yang tidak terlalu intrusif, tapi juga
memiliki kemampuan mengimplementasikan fungsinya di area-area yang memang
harus diatur. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Strategi keamanan
nasional yang harus dibangun harus didasarkan pada prinsip-prinsip di
bawah ini: </SPAN></FONT></P>
<OL type=1>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pemahaman mengenai
keamanan komprehensif yang didasarkan pada konsep <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">national resilience</SPAN></I>.
</SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Cara pandang
keamanan yang seimbang antara state dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">human security</SPAN></I>. </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Pemahaman bahwa
Keamanan Nasional bukan tanggung jawab pemerintah (apalagi TNI) semata,
tapi seluruh elemen masyarakat. </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Tidak boleh lagi
dipahami hanya sebagai <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">the use of
military force</SPAN></I>. Kita masih sering terjebak untuk menonjolkan
dimensi militer. </SPAN></FONT>
<LI class=MsoNormal><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Diletakan pada
pertautan 4 pilar dalam mencapai national interest – <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">development, democracy, diplomacy</SPAN></I>
dan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">defense</SPAN></I> – untuk
menjamin <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">the survival of this
state</SPAN></I> yang vital. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Development</SPAN></I> menjadi basis dari
demokrasi. Demokrasi menjamin diperhatikannya kelompok marjinal dalam
pembangunan. Demokrasi memberikan kredibilitas dan <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">internal justification</SPAN></I> diplomasi
di luar negeri. Demokrasi menjamin kontrol dan supremasi sipil dalam
kaitannya dengan <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">defense</SPAN></I>,
juga profesionalisme militer. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Development</SPAN></I> menjamin peningkatan
kemampuan militer dan kesejahteraan prajurit. <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">Defense</SPAN></I> yang kuat akan memberikan
<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">confidence</SPAN></I> yang cukup
untuk praktek diplomasi. </SPAN></FONT></LI></OL>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Faktor pengikat yang
lain untuk nation-building adalah faktor <I><SPAN
style="FONT-STYLE: italic">justice</SPAN></I>, bukan hanya sejarah yang
diikat dengan aspirasi politik dan bukan kesukuan/etnisitas. Kesatuan
(<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">uniformity</SPAN></I>) harus ditolak.
Persatuan (<I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">unity</SPAN></I>) yang
harus diperjuangkan dan dibangun. </SPAN></FONT></P>
<P><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Sebelum diskusi
ditutup, <A
href="http://www.csis.or.id/scholars_view.asp?id=53&tab=0">Harry Tjan
Silalahi</A> melontarkan pentingnya revitalisasi Pancasila dalam arti yang
benar sebagai <I><SPAN style="FONT-STYLE: italic">integrating
factor</SPAN></I> untuk kebangsaan Indonesia yang bisa mencegah
primordialisme, sentralisme yang menjurus kepada unilateralisme, dan
bidang sosial. Kita pernah overdosis Pancasila, tidak sesuai konsep,
perkataan dan perbuatan. Jangan sampai kesalahan yang sama terulang
kembali. </SPAN></FONT></P>
<DIV class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center"
align=center><STRONG><B><FONT face="Trebuchet MS" size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: normal; FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">
<HR align=center width="100%" SIZE=2>
</SPAN></FONT></B></STRONG></DIV>
<P style="TEXT-ALIGN: center" align=center><B><FONT face="Trebuchet MS"
color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'"><IMG
height=75 src="mhtml:mid://00000078/!cid:image001.jpg@01C5C469.811F27C0"
width=74 align=baseline border=0></SPAN></FONT></B></P>
<P style="TEXT-ALIGN: center" align=center><B><FONT face="Trebuchet MS"
color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Rangkaian
Seminar CSIS untuk memperingati </SPAN></FONT></B></P>
<P style="TEXT-ALIGN: center" align=center><B><FONT face="Trebuchet MS"
color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">60
Tahun Kemerdekaan Republik </SPAN></FONT></B><B><FONT face="Trebuchet MS"
color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">Indonesia</SPAN></FONT></B><B><FONT
face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">
</SPAN></FONT></B></P>
<UL type=disc>
<LI class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center"><B><FONT
face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">10
Agustus 2005 - <A
href="http://www.csis.or.id/events_past_view.asp?id=79&tab=0">Desain
Baru Politik Luar Negeri Indonesia</A> </SPAN></FONT></B>
<LI class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center"><B><FONT
face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">28
September 2005</SPAN></FONT></B><B><FONT face="Trebuchet MS"
color=#990000><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">
- <A
href="http://www.csis.or.id/events_past_view.asp?id=82&tab=0">Perspektif
Baru Keamanan Nasional</A> </SPAN></FONT></B>
<LI class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center"><B><FONT
face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">8
Februari 2006 - Desain Baru Ekonomi Nasional </SPAN></FONT></B>
<LI class=MsoNormal style="TEXT-ALIGN: center"><B><FONT
face="Trebuchet MS" color=#990000 size=2><SPAN
style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 10pt; COLOR: #990000; FONT-FAMILY: 'Trebuchet MS'">22
Maret 2006 - Desain Baru Sistem Politik Nasional
</SPAN></FONT></B></LI></UL></TD>
<TD
style="PADDING-RIGHT: 0in; PADDING-LEFT: 0in; PADDING-BOTTOM: 0in; PADDING-TOP: 0in">
<P class=MsoNormal><FONT face=Verdana size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt"></SPAN></FONT> </P></TD></TR></TBODY></TABLE>
<P class=MsoNormal><FONT face=Verdana size=2><SPAN
style="FONT-SIZE: 10pt"></SPAN></FONT> </P></DIV></DIV></BODY></HTML>